Alhamdulillah hirabbilalamin! Di tengah padatnya perkuliahan saya menyempatkan diri untuk mengetikkan tulisan ini
dan tidak membiarkan jari ini menganggur sia-sia. Tulisan ini merupakan
buah pemikiran dari penulis dan sahabat-sahabat gurindam. Apa yang
sering kita perhatikan selama ini, apa yang menjadi hiburan, tontonan,
bahan pembicaraan dan lain sebagainya merupakan bentuk perkembangan
zaman dan salah satu bentuk orang-orang Yahudi untuk melalaikan kita
Umat Islam ini. Jika sebelumnya kita bisa belajar dari bibit tumbuhan, dengingan nyamuk serta sadar bahwa kita adalah model Allah, maka topik yang satu ini tak kalah pentingnya mengingat akan diselenggarakannya event sepakbola terbesar di Brasil. Untuk mengupas permasalahan ini, perhatikan gambar dibawah ini:
Apa beda dari dua gambar di atas? Ya, benar! Yang di atas adalah Masjidil Haram dan yang di bawahnya adalah Lapangan Sepakbola. Namun yang menjadi perhatian penulis adalah fungsi dari kedua tempat tersebut.
Subhanallah. Maha besar Allah yang telah
membuktikan kebesaran-Nya ketika kita teringat akan keberhasilan Nabi
Muhammad SAW dan para sahabat menegakkan kalimat tauhid. Disaat itu
semua orang berkumpul mengelilingi Ka’bah dan menghancurkan
berhala-berhala yang ada disekitarnya. Semua orang berbondong-bondong
masuk ke agama Allah, Islam. Dan disaat itu merupakan awal dari
kebangkitan Islam sehingga menyebar ke seluruh dunia. Masjidil Haram
merupakan tempat berkumpulnya seluruh umat untuk melakukan ibadah dan
memuji kebesaran Allah SWT.
Namun tak kalah hebatnya untuk tempat
yang satu ini. Begitu banyak sejarah yang terukir hingga begitu di
agung-agungkan oleh seluruh manusia di dunia ini. Jika dahulunya
orang-orang berkumpul mengelilingi Ka’bah untuk menyembah tuhan mereka,
saat ini orang-orang lebih rela menghabiskan waktu, uang bahkan nyawa
mereka untuk berkumpul di lapangan sepakbola untuk mengelilingi dan
megelu-elukan tuhan mereka. Tuhan? Ya! Mereka telah membuat sepakbola
menjadi tuhan sehingga mereka lupa
akan kewajibannya. Mereka telah mengabaikan Tuhan yang menciptakan
pemain-pemain yang memiliki kualitas dan skill luar biasa tersebut.
Sejenak kita berpikir dan sadar bahwa
selama ini sebagian besar waktu diselenggrakannya pertandingan selalu
bersamaan dengan waktu shalat (Ashar, Maghrib). Dan tak sedikit pula
orang yang bangun malam hanya dengan tujuan untuk menonton tim
kesayangan mereka bertanding. Masalah yang satu ini tak kalah
pentingnya. Seandainya saja ada klub yang mereka idolakan dihina atau
diejek oleh orang lain, maka reaksinya-pun mengalahkan dari tertindasnya
umat-umat muslim
yang dibantai di Palestina sana. Dimana rasa syukur kita kepada Allah
yang setiap detik memberikan rahmat-Nya? Atau Allah-lah yang membutuhkan
kita? Atau bahkan sepakbola tersebut yang memberikan kita oksigen
sehingga kita dapat bebas bernafas? Allah maha pengasih dan masih
memberikan kita nikmat akal yang dapat kita gunakan untuk berfikir. Bertobatlah!