Advertise

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Jumat, 13 Juni 2014

Masjidil Haram VS Lapangan Sepak Bola

0 komentar
Alhamdulillah hirabbilalamin! Di tengah padatnya perkuliahan saya menyempatkan diri untuk mengetikkan tulisan ini dan tidak membiarkan jari ini menganggur sia-sia. Tulisan ini merupakan buah pemikiran dari penulis dan sahabat-sahabat gurindam. Apa yang sering kita perhatikan selama ini, apa yang menjadi hiburan, tontonan, bahan pembicaraan dan lain sebagainya merupakan bentuk perkembangan zaman dan salah satu bentuk orang-orang Yahudi untuk melalaikan kita Umat Islam ini. Jika sebelumnya kita bisa belajar dari bibit tumbuhan, dengingan nyamuk serta sadar bahwa kita adalah model Allah, maka topik yang satu ini tak kalah pentingnya mengingat akan diselenggarakannya event sepakbola terbesar di Brasil. Untuk mengupas permasalahan ini, perhatikan gambar dibawah ini:


etihad_stadium

Apa beda dari dua gambar di atas? Ya, benar! Yang di atas adalah Masjidil Haram dan yang di bawahnya adalah Lapangan Sepakbola. Namun yang menjadi perhatian penulis adalah fungsi dari kedua tempat tersebut.

Subhanallah. Maha besar Allah yang telah membuktikan kebesaran-Nya ketika kita teringat akan keberhasilan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menegakkan kalimat tauhid. Disaat itu semua orang berkumpul mengelilingi Ka’bah dan menghancurkan berhala-berhala yang ada disekitarnya. Semua orang berbondong-bondong masuk ke agama Allah, Islam. Dan disaat itu merupakan awal dari kebangkitan Islam sehingga menyebar ke seluruh dunia. Masjidil Haram merupakan tempat berkumpulnya seluruh umat untuk melakukan ibadah dan memuji kebesaran Allah SWT.

Namun tak kalah hebatnya untuk tempat yang satu ini. Begitu banyak sejarah yang terukir hingga begitu di agung-agungkan oleh seluruh manusia di dunia ini. Jika dahulunya orang-orang berkumpul mengelilingi Ka’bah untuk menyembah tuhan mereka, saat ini orang-orang lebih rela menghabiskan waktu, uang bahkan nyawa mereka untuk berkumpul di lapangan sepakbola untuk mengelilingi dan megelu-elukan tuhan mereka. Tuhan? Ya! Mereka telah membuat sepakbola menjadi tuhan sehingga mereka lupa akan kewajibannya. Mereka telah mengabaikan Tuhan yang menciptakan pemain-pemain yang memiliki kualitas dan skill luar biasa tersebut.

Sejenak kita berpikir dan sadar bahwa selama ini sebagian besar waktu diselenggrakannya pertandingan selalu bersamaan dengan waktu shalat (Ashar, Maghrib). Dan tak sedikit pula orang yang bangun malam hanya dengan tujuan untuk menonton tim kesayangan mereka bertanding. Masalah yang satu ini tak kalah pentingnya. Seandainya saja ada klub yang mereka idolakan dihina atau diejek oleh orang lain, maka reaksinya-pun mengalahkan dari tertindasnya umat-umat muslim yang dibantai di Palestina sana. Dimana rasa syukur kita kepada Allah yang setiap detik memberikan rahmat-Nya? Atau Allah-lah yang membutuhkan kita? Atau bahkan sepakbola tersebut yang memberikan kita oksigen sehingga kita dapat bebas bernafas? Allah maha pengasih dan masih memberikan kita nikmat akal yang dapat kita gunakan untuk berfikir. Bertobatlah!

Leave a Reply

 
Modal Ide © 2014 | Designed By Blogger Templates